Analisislah Bentuk Kerukunan Yang Terjalin Di Kerajaan Majapahit

Cantiks.com – Analisislah Bentuk Kerukunan Yang Terjalin Di Kerajaan Majapahit

KOMPAS.com
– Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya pada 1293 dan mencapai kejayaan pada era pemerintahan Hayam Wuruk dengan patih Gajah Mada.

Sepeninggal Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Majapahit mengalami kemunduran dan akhirnya runtuh akibat serangan dari Demak.

Sebelum keruntuhannya, Majapahit menjadi kerajaan yang toleran dengan keberagaman agamanya.

Salah satu bukti adanya toleransi beragama yang tinggi di Majapahit adalah Hayam Wuruk yang menganut Hindu Siwassidharta dapat hidup berdampingan dengan ibunya Tribhuana Tunggadewi yang menganut Buddha.

Baca juga: Tribhuwana Tunggadewi, Ratu Majapahit Penakluk Nusantara

Agama di Majapahit

Kehidupan yang harmonis antarpemeluk agama melalui ajaran Bhinneka Tunggal Ika pada zaman Kerajaan Majapahit menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar dan diakui dunia.

Agama yang dimaksud pada zaman Kerajaan Majapahit adalah Hindu dan Buddha.

Meski dianggap sebagai kerajaan Hindu-Buddha, Majapahit hanya menganggap dua agama resmi yaitu Siwa dan Buddha.

Hal itu berdasarkan Prasasti Waringinpitu yang dikeluarkan oleh Raja Kertawijaya pada 1447 M, yang menyebut nama pejabat birokrasi kerajaan di pusat.

Di antaranya adalah Dharmmadhyaksa ring kasaiwan atau pejabat yang mengurusi Agama Siwa. Satu lagi adalah Dharmmadhyaksa ring kasogatan atau pejabat yang mengurusi Agama Buddha.

Dengan luasnya kekuasaan, penduduk Kerajaan Majapahit memiliki kepercayaan yang bermacam-macam. Ada yang memeluk Hindu, Buddha, ajaran Siwa-Buddha dan ada yang masih percaya dengan kejawen atau animisme.

Ajaran Siwa dan Buddha merupakan sinkretisme dari agama Hindu dan Buddha yang berada di Nusantara. Ajaran ini bahkan sudah dikenal sejak era Mataram Kuno.

Baca juga:  Tendangan Bebas Yang Diberikan Setelah Terjadi Pelanggaran Disebut

Pada perkembangannya, peran agama Buddha semakin menghilang ketika Majapahit berada diakhir kejayaannya.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya candi peninggalan Majapahit yang bercorak Siwa.

Baca juga: Contoh Sikap Kepahlawanan Masa Kerajaan Hindu, Buddha, dan Islam

Islam di Majapahit

Bukti kehadiran Islam di Majapahit adalah melalui penemuan pemakaman Islam kuno di Desa Tralaya, Trowulan, Mojokerto.

Tempat tersebut tidak jauh dari kompleks kedaton Majapahit berdiri. Apabila dilihat dari nisannya, situs makam Tralaya berasal dari 1533 Saka atau 1611 M.

Tahun tersebut masih dalam pemerintahan Hayam Wuruk dan ada beberapa penduduk yang memeluk agama Islam.


Sandy Solihin/NGI
Suasana kanal di Ibu Kota Majapahit Trowulan dalam poster National Geographic Indonesia, September 2102. Jaringan kanal kuno ini mulai diketahui setelah adanya kajian foto udara dan endapan pada 1983. Kanal dibangun sebagai adaptasi musim warga Majapahit.

Bukti lain adalah dari keterangan Ma Huan, seorang penerjemah Laksamana Cheng Ho yang menyebutkan bahwa di Majapahit terdapat tiga golongan agama, salah satunya adalah Islam.

Kebanyakan yang menganut muslim adalah saudagar yang datang dari barat.

Baca juga: Sejarah Masuknya Islam di Jawa Timur

Toleransi di Majapahit

Kehidupan sosial budaya masyarakat Majapahit sudah diwarnai dengan hal-hal yang bersifat keagamaan.

Agama di Majapahit memiliki fungsi yang kompleks, salah satunya adalah menumbuhkan rasa toleransi antar warga.

Selain itu, kerajaan juga memberikan pengakuan dan kesempatan yang sama terhadap para tokoh agama untuk duduk dalam pemerintahan.

Bangunan suci yang berupa candi juga menjadi salah satu bentuk toleransi agama di Majapahit.

Candi tersebut memiliki dua atau lebih dari sifat keagamaan yang menjadi bukti integrasi sosial dan toleransi di bidang agama.

Baca juga:  Apa Yang Bukan Sifat Wirausaha Adalah

Candi itu tidak hanya untuk kalangan Hindu-Buddha, namun juga untuk kalangan muslim. Karena di era Hayam Wuruk sudah ada penduduk yang memeluk Islam.

Kerajaan Majapahit sebagai salah satu dari kerajaan maritim Hindu-Buddha di Nusantara memiliki banyak keragaman di antaranya penganut agama yang berbeda. Meskipun demikian rakyat Majapahit dapat hidup rukun dan berdampingan.

Raja selalu berusaha agar ketenteraman masyarakatnya dapat berjalan baik sehingga keragaman dalam keharmonisan dari masyarakat kerajaan Majapahit berpengaruh hingga saat ini dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Dampak keragaman tersebut terhadap kehidupan masyarakat Indonesia masa kini adalah munculnya sikap toleransi dan empati dari masyarakat yang berbeda latar belakang status.

Referensi:

  • M.C. Ricklefs. 2010.
    Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  • Munandar, Agus Aris. 2018.
    Wilwatikta Prana
    . Jakarta: Wedatama Widya Sastra

Dapatkan update
berita pilihan
dan
breaking news
setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Analisislah Bentuk Kerukunan Yang Terjalin Di Kerajaan Majapahit

Sumber: https://www.kompas.com/stori/read/2021/12/02/090000979/toleransi-antarumat-beragama-pada-masa-kerajaan-majapahit?page=all