Cerita Gambar Yang Bersifat Lucu Dan Umumnya Mudah Dimengerti Disebut

Cantiks.com – Cerita Gambar Yang Bersifat Lucu Dan Umumnya Mudah Dimengerti Disebut

Komik, jika merunut artinya berdasar Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah cerita bergambar baik dalam majalah, surat kabar, atau berbentuk buku, yang umumnya mudah dicerna dan lucu. Dalam satu periode, komik sempat juga menerima sebutan dengan cerita bergambar (cergam).

Cerita bergambar sudah lekat dalam kehidupan saya sejak mulai mampu membaca dan menyukai cerita petualangan. Saya lupa apa komik pertama yang saya baca. Namun masih teringat sejumlah komik terbitan DC bonus pembelian sabun mandi antibakteri saat itu, cukup memuaskan dahaga kesukaan pada komik.

Belum ada upaya untuk belanja komik saat itu, kendati toko buku sudah dijejali banyak ragam komik Eropa hingga Amerika. Jangan tanya soal outlet persewaan buku komik dan cerita silat yang menjamur di era tahun 1980 an. Jawabannya ada pada budaya berhemat yang dijadikan pakem sejak kecil. Artinya, tak ada uang jajan atau uang saku, jika mungkin ini merupakan jawaban paling sopan dari kata ketidakmampuan finansial.

Syukurlah Bapak saya masih cukup humanis ketika anaknya merengek saat di stasiun, atau dalam gerbong Kereta Listrik ketika berkunjung ke rumah famili. Sehingga bisalah saya memiliki buku cerita bergambar tipis Petruk Gareng karya Tatang S, atau Tarzan karya Edgar Rice Burroughs yang bisa dibeli seharga Rp100. Era tahun 1980-an, stasiun KRL dan gerbong KRL layaknya sebuah minimarket berjalan. Apa saja tersedia, termasuk komik. So, perjalanan menggunakan KRL adalah saatnya bertamasya dan memiliki cergam baru.

Baca juga: Komik Lokal, Investasi dan Sarana
Hedging?

Seingat saya, komik pertama yang benar-benar dimiliki dan dibubuhi nama pribadi pada cover adalah Swam Thing, tokoh superhero humanoid dari DC yang tubuhnya seperti tumbuhan, karya Len Win dan Bernie Wrightson. Berikutnya mulailah dimiliki sejumlah karakter superhero Marvel. Superman dan Batman pun mulai menghiasi rak buku. Sedikit di antaranya adalah karya RA Kosasih yang bercerita tentang Mahabharata atau Ramayana.

Tentu ada pertanyaan, kenapa justru tak banyak novel grafis karya komikus lokal dalam daftar koleksi? Jawabannya adalah, sebagian besar komik lokal, khususnya komik silat, kerap diwarnai gambar-gambar sensual, dus cerita kekerasan. Kasus ini menghambat lolosnya komik lokal dari badan sensor di rumah.

Baca juga:  Kata Kata Bijak Siapa Yang Menanam Dia Yang Menuai

Ironis memang, saya baru memiliki dan mengumpulkan komik lokal karya para begawan seperti Ganes Th, Jan Mintaraga, Hans Jaladara, Djair, Mansyur Daman, atau Wid NS, Hasmi serta Gerdi WK begitu saya sudah beranjak dewasa. Alasan logis lainnya, komik baru bisa dimiliki setelah mampu mencari uang sendiri.

Beberapa komik yang benar-benar saya baca antara lain Ganes Th dengan serial Si Buta dari Gua Hantu (SBGH), dan Mansyur Daman lewat serial Mandala. Membaca karya Ganes dengan gambarnya yang realis, menurut saya seperti menonton film bioskop dalam bentuk panel-panel pada kertas. Ceritanya pun layaknya sebuah drama yang kerap dipertontonkan di film. Sedangkan MAN, atau Mansyur Daman goresannya secara subjektif amat saya sukai. Mungkin akan banyak yang mendebat bahwa karya Teguh Santosa dan Jan Mintaraga yang sejatinya paling menarik untuk dibaca dan dinikmati hasil goresannya.

Sejumlah komik yang oleh sejumlah kalangan disebut-sebut sebagai karya “kelas dua” pun ikut terkumpul. Sebutan kelas dua mungkin karena hasil goresan dan cerita yang mereka hasilkan tak seorisinil atau semonumental para komikus yang kadung menikmati nama besar di jagat komik nasional.

Virus Komik Jepang dan Eropa
Kolektor? Saya belum berani menerima predikat itu, malu rasanya jika ada kolektor sebenarnya datang melihat hasil perburuan. Berupaya melestarikan karya-karya komikus lokal? Ah terlalu
high profile
sebutan itu. Memangnya
maecenas
komik, siapa saya? Tapi setidaknya ingin menyimpan sejumlah karya lokal agar nantinya bisa diperkenalkan kepada keturunan kelak yang bisa jadi telah dikuasai virus komik Jepang dan Eropa.

Namun keprihatinan tersebut benar-benar menjadi alasan sejumlah kolektor untuk mengumpulkan dan meyimpannya. Sebut saja Sumarlin yang kini tinggal di Sidoarjo, aktif mengumpulkan komik-komik lokal sejak tahun 1994, begitu ia mulai mendapatkan penghasilan tetap. Perburuan pun kerap ia lakukan ke sejumlah daerah dan kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kendati aktif sejak lama mengkoleksi, Sumarlin menolak disebut sebagai kolektor. Ia hanya mengaku cemas jika tak ada orang-orang yang berusaha mengumpulkan karya-karya lokal, maka sepuluh tahun ke depan, bisa jadi karya tersebut sudah tak lagi mudah ditemui. “Hobi seperti ini kan nggak mungkin diwariskan, sementara para kolektor juga akan semakin berusia, gak akan ngurusi komik terus,” ujarnya serius.

Baca juga:  Cara Membuat Gantungan Kunci Dari Cangkang Kerang

Di Bandung, ada Ris Linandar. Ia mengaku mengkoleksi apa yang ia sebut sebagai memori atau kenangan. Komik lawas karya komikus lokal mengisi hari-harinya semasa kanak-kanak hingga remaja. Maka ia menyimpan memori dalam periode tersebut dengan mengumpulkan hampir semua komik karya komikus lokal.

Tak semua komik ia buru, ia mensyaratkan komik yang layak masuk dalam rak bukunya hanyalah komik dengan kondisi baik tanpa disisir atau potongan pada tepian komik, cetakan pertama, dan hasil karya para begawan komik seperti Hasmi, Wid NS, Teguh Santosa, Jan Mintaraga, Ganes Th, Kus Bram, Taguan Hardjo, Indri Soedono dan Djair.

Seperti halnya Sumarlin, ia cemas hasil komik yang ia kumpulkan tak bisa dilestarikan dengan baik mengingat anak-anaknya tak ada yang memiliki minat yang sama. “Kelihatannya komik-komik ini tidak akan saya lepas. Yang kadang jadi pikiran cuma satu, anak-anak nampaknya tak tertarik membaca dan merawatnya,” ujarnya.

Di Palembang, Sumatera Selatan, ada Ardian Syamsi, yang aktif mengumpulkan komik sejak masih kecil. “Saya mulai mengkoleksi komik sejak tahun 1978,” ujarnya. Jadi bisa dibayangkan seberapa banyak karya komikus lokal yang mengisi lemarinya.

Singkat kata, beberapa tahun lalu dalam grup di media sosial tempat berkumpul para penyuka komik lokal, digelar lelang komik edisi ulang tahun Godam berjudul Bregota. Harga final terbentuk oleh pemenang lelang, saat itu mencapai nilai Rp1 juta lebih. Angka fantastis untuk sebuah komik. Belum lagi lelang-lelang baru-baru ini yang diadakan untuk komik tertentu, bisa mencapai angka Rp 3 juta lebih, kendati sudah termasuk sejumlah bonus komik lainnya.

Dari situ pelaku lelang tentunya menikmati profit dan margin berlipat dibanding harga awal saat ia beli. Berlaku hukum pasar,
supply
terbatas dengan
demand
besar akan menghasilkan
pricing
yang “gila-gilaan”.

Baca juga:  Berikut Yang Bukan Contoh Sederhana Bernegosiasi Dalam Kehidupan Adalah

Bisa disimpulkan, mengkoleksi komik lokal sama halnya sebuah investasi. Komik tertentu bisa dilepas dengan tujuan mendapatkan margin besar. Hal ini dibenarkan oleh Andy Wijaya, kolektor asal Jakarta yang lewat institusi “Bumilangit Studio” kerap merestorasi komik-komik lawas berkualitas, dan kembali memperkenalkannya kepada segmen millenial. Bahkan Andy kini terlibat dalam pembuatan film Gundala karya Hasmi, yang peran Gundala kabarnya akan dipercayakan pada Abimana Arya Satya.

Lantas apa saja komik yang layak dijadikan barang investasi? “Syaratnya, komik tersebut produk langka dan bagus,” kata Andy. Ia juga menyebut ada cara
appraisal
untuk komik-komik tertentu untuk bisa disebut komik kelas utama. Sayangnya ia belum berkesempatan menjelaskan cara appraisal tersebut.

Namun Ris Linandar memberikan ‘clue’ paling mudah untuk komik kelas utama tersebut. Seperti prasyarat yang ia tetapkan pada komik yang ia buru, maka kelas utama tentunya adalah komik-komik karya para begawan besar yang merupakan cetakan pertama tanpa potongan pada tepi, dan dalam kondisi apik. Sempat muncul istilah “mint” bagi komik lawas dan langka yang masih dalam kondisi sangat baik. “Setuju, komik memang bisa menjadi produk investasi,” tegas Ris.

Senada dengan Ris Linandar, Ardian Syamsi menyebut cetakan awal dengan kondisi yang apik sebagai syarat komik yang bisa diinvestasikan. “Semakin awal sebuah cetakan penerbitan, maka harga lebih tinggi. Kita ambil contoh, Bulan Kabangan karya Man untuk cetakan 1 atau lazim disebut C1 saat ini bisa mencapai harga Rp800 ribu, sedangkan untuk C2 dihargai Rp 500.000,” paparnya.

Nama pengarang pun jadi penanda. Seperti halnya Ris, ia menyebut nama-nama seperti Jan Mintaraga, Ganes Th, Teguh Santosa dan yang sederajat sebagai kreator komik yang menempati posisi teratas terkait harga jual. Bukan berarti Djair, Har, dan Henky, tak berharga, namun masih kalah kelas, imbuhnya. Maka sepakatlah Ardian jika komik merupakan salah satu barang investasi, dan bukan klangenan semata.

Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Majalah Investor

Cerita Gambar Yang Bersifat Lucu Dan Umumnya Mudah Dimengerti Disebut

Sumber: https://www.beritasatu.com/ekonomi/524281/coba-mendulang-laba-lewat-komik-lawas